6 Ciri Tubuh Kebanyakan Gula yang Perlu Diwaspadai, dari Mudah Lapar hingga Insomnia
Gula memang bisa bikin tubuh terasa lebih berenergi dalam sekejap, tapi jika dikonsumsi kebablasan, efeknya justru bisa berbahaya. Kini makanan instan dan minuman manis semakin mudah ditemui, sering kali menyimpan gula dalam jumlah yang tidak disangka-sangka. Padahal, tubuh kita punya sistem alarm alami yang memberi tanda saat kadar gula darah mulai berlebihan. Masalahnya, banyak orang mengabaikannya dan mengira itu cuma capek atau faktor umur. Padahal, terlalu banyak gula bisa memicu peradangan, mengacaukan kerja insulin, dan merusak saraf. Menyadari sinyal tubuh sejak awal adalah kunci penting untuk mencegah diabetes dan penyakit jantung di kemudian hari. Maka berikut ini 6 sinyal dari tubuh yang menandakan Anda sudah mengonsumsi terlalu banyak gula:
1. Rasa Lapar yang Terus-Menerus (Constant Hunger)
Sinyal yang paling sering muncul adalah keinginan untuk makan terus, meskipun baru saja menyelesaikan hidangan besar. Hal ini terjadi karena gula menyebabkan lonjakan insulin yang sangat cepat, namun diikuti dengan penurunan kadar gula darah secara drastis (sugar crash). Saat gula darah turun tiba-tiba, otak mengirimkan sinyal kelaparan yang kuat untuk mencari energi tambahan. Kondisi ini menciptakan siklus "lapar-makan manis-lapar lagi" yang sulit diputus, yang pada akhirnya menyebabkan penumpukan lemak karena asupan kalori yang berlebihan.
2. Gangguan Tidur dan Insomnia (Susah Tidur)
Banyak orang tidak menyadari bahwa kelebihan gula adalah musuh utama tidur nyenyak. Mengonsumsi gula di sore atau malam hari dapat menyebabkan lonjakan energi yang membuat tubuh tetap terjaga. Selain itu, fluktuasi gula darah saat tidur dapat memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin, yang sering menyebabkan seseorang terbangun di tengah malam dan sulit untuk tidur kembali. Kualitas tidur yang buruk ini kemudian akan memicu keinginan makan manis di pagi hari untuk mendapatkan energi instan, menciptakan lingkaran setan yang merusak ritme sirkadian tubuh.
3. Kelelahan Ekstrem dan "Brain Fog"
Pernahkah Anda merasa sangat mengantuk atau sulit berkonsentrasi setelah makan siang yang manis? Ini adalah sinyal klasik kelebihan gula. Meskipun gula adalah sumber energi, kelebihan asupannya justru membuat sel-sel tubuh kurang sensitif dalam mengolah energi tersebut. Akibatnya, otak tidak mendapatkan pasokan bahan bakar yang stabil, menyebabkan fenomena brain fog atau kabut otak, di mana Anda merasa linglung, sulit fokus, dan merasa lelah secara mental sepanjang hari meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.
4. Masalah Kulit yang Membandel (Jerawat dan Kusam)
Kulit adalah cermin dari apa yang terjadi di dalam perut. Konsumsi gula berlebih memicu proses kimia yang disebut glikasi, di mana molekul gula menempel pada protein kolagen dan elastin di kulit. Proses ini merusak struktur kulit, membuatnya lebih rentan terhadap peradangan, jerawat, hingga penuaan dini (kerutan). Jika Anda merasa penggunaan skincare tidak membuahkan hasil sementara wajah terus beruntusan atau tampak kusam, kemungkinan besar masalahnya terletak pada asupan gula harian Anda yang terlalu tinggi.
5. Sering Buang Air Kecil dan Rasa Haus Berlebih

Ketika kadar gula dalam darah terlalu tinggi, ginjal harus bekerja ekstra keras untuk menyaring dan membuang kelebihan glukosa tersebut melalui urine. Hal ini menyebabkan frekuensi buang air kecil meningkat. Karena tubuh mengeluarkan banyak cairan, Anda akan merasa haus yang sangat intens secara terus-menerus (polidipsia). Jika Anda merasa mulut selalu kering meskipun sudah minum banyak air, ini adalah sinyal serius bahwa kadar gula darah Anda memerlukan perhatian medis.
6. Perubahan Suasana Hati yang Drastis (Mood Swings)
Gula memiliki dampak langsung pada neurotransmiter di otak, termasuk dopamin. Lonjakan gula yang cepat diikuti dengan penurunan tajam dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang tidak stabil. Anda mungkin merasa sangat bahagia setelah makan manis, namun segera berubah menjadi mudah marah (irritable), cemas, atau bahkan merasa sangat sedih sesudahnya. Ketergantungan emosional pada makanan manis untuk memperbaiki mood adalah tanda bahwa tubuh dan otak Anda sedang berjuang melawan ketidakseimbangan gula.